Showing posts with label Persiapan menuju Qatar. Show all posts
Showing posts with label Persiapan menuju Qatar. Show all posts

Qatar..I am coming!!

“Haruskah aku berangkat?”

Itulah kataku di dalam hati pada pagi hari menjelang keberangkatan, berat rasanya meninggalkan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita, yang selalu membuat kita merasa dicintai, di kasihi dan dibuat nyaman oleh kebersamaan, begitu pula kita yang sangat mengasihi mereka.

Berat sekali terus terang apalagi ketika melihat putri pertamaku yang entah mengapa, terus menatapku dan selalu minta di gendong. Malam harinya bahkan sempat terbersit di pikiran untuk membatalkan keberangkatanku. Ya, membatalkan!

Tapi untung aku memiliki istri yang selalu menyemangatiku untuk berjuang dan berusaha. Ini ikhtiar, dan ini adalah jalan untuk berhijrah, berhijrah untuk penghidupan yang lebih baik, untuk menaikkan derajat hidup diri, keluarga dan orang sekitar, perjuangan untuk iman dan selebihnya adalah mereguk pengalaman yang amat sangat langka. Sesungguhnya iman kita betul-betul diuji kala itu ketika kita berat meninggalkan apa yang kita cintai, setan terasa selalu begitu menggoda untuk kita berhenti berikhtiar.

Disaat begini aku jadi teringat kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam, dimana beliau diperintahkan Allah untuk meninggalkan anak yang masih menyusi, Ismail Alaihissalam dan istrinya, Siti Hajar di tengah padang pasir yang kering dan panas, dengan ikhlas Nabi Ibrahim pun menuruti perintah Allah, demikian juga istrinya. Demi hal yang lebih baik lagi di kemudian hari, bahkan yang kita rasakan hingga saat ini, sumber air Zam-Zam dan kota Makkah yang diberkahi, yang menjadi pusat ibadah kaum muslimin diseluruh dunia adalah hasil ikhtiar Nabi Ibrahim. Belum lagi kisah Rasullullah SAW yang berhijrah ke Madinah, juga untuk hal yang lebih baik.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah lain tentang berhijrah untuk hal yang lebih baik. Jika di zaman dahulu yang belum ada internet, telepon bahkan belum ada surat menyurat saja orang rela dan ikhlas. Masak di zaman internet, wifi, telepon, video call di line, skype, whatsupp, belum lagi update status di facebook dan path kita masih saja manja. Masih kurang untuk bersyukur? Ah..malu rasanya.  

Dengan ditemani cerita-cerita kekasih Allah nan penuh inspiratif: ” Qatar..I am coming!!, Bismillahi Tawakaltu..Lahaulawalaquwwata Illabillah”..Aku serahkan segala kekuatan kepadaMu, lindungilah keluargaku, lindungilah aku, permudahkan jalanku dan berikan kami kebaikan dari semua keputusan ini.  Aamiin.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pesawatku dijadwalkan berangkat sore hari sehingga pagi hingga siang aku manfaatkan untuk mengecek segala persiapan yang sudah dilakukan. Yang paling ku takutkan bukanlah pakaian atau makanan, melainkan dokumen. Berulang kali aku mengecek dokumen-dokumen yang disebutkan di dalam email. Alhamdulillah sudah semua. Setelah itu kini saatnya melakukan penukaran uang, mata uang Negara Qatar adalah Qatar Rial (QR).

Untuk kehidupan awal bawalah sedikitnya 2000 QR atau sekitar 7,4 juta rupiah.  Tapi sayang, mata uang QR tidak tersedia di money changer yang dekat dengan rumah, padahal biasanya lengkap, yasudah akhirnya aku menukar dalam bentuk dollar dan akan ku tukar ke QR setibanya disana.

Di bandara aku diantar oleh kedua orang tuaku, adik,  istri, anak, mertua , ipar ..Tak lupa untuk berfoto di bandara dengan semuanya..

Akhirnya.. nama penerbanganku sudah di sebut di pengeras suara, saatnya masuk ruang boarding, peluk cium dan pesan-pesan penuh haru masuk ke telingaku yang tak akan ku pernah lupa.


Bismillah, Qatar..I am Coming!!

Menjelang Keberangkatan ke Qatar

Penerbitan visa ku sempat terkendala waktu, biasanya visa diberikan satu minggu hingga dua minggu sebelum keberangkatan, namun hingga satu minggu sebelum notice period ku berakhir nyatanya visa belum juga aku terima, antara dag-dig-dug dan pasrah akhirnya aku coba diri bertanya ke milis yang menjadi andalan ku selama periode menunggu ini. Nama milisnya adalah tentang Qatar, search saja di google groups. Atau mampir ke www.tentangqatar.com

Jawaban rekan-rekan di milis hampir bervariasi, bahkan ada yang satu bulan sebelum keberangkatan visa sudah di tangan. Namun rata-rata satu hingga dua minggu keberangkatan biasanya visa sudah di dapat. 

Satu minggu pun hampir berlalu dan akhirnya aku beranikan diri mengirim si recruiter email, email tersebut aku cc ke alamat email yang sepertinya menjadi atasannya. Tak berapa lama aku mendapat jawaban bahwa visa masih diproses di imigrasi dan aku harus bersabar karena ini menjelang Idul Adha.

Oh ya, aku hampir lupa bawah 2 hari lagi adalah hari raya Idul Adha, dan ternyata hari libur di Qatar untuk setiap hari raya adalah satu minggu, baik Idul Adha maupun Idul Fitri dan ini umum di setiap Negara gulf country (Negara arab). Ini menunjukkan penghormatan yang besar terhadap agama, pantas jika Qatar dan Negara Arab lainnya begitu diberkahi dengan kekayaan hingga pendapatan per kapitanya adalah yang tertinggi di dunia. Subhanallah.

Akhirnya aku batalkan acara ngedumel dan mencoba menikmati waktu dengan si kecil yang semakin hari semakin menggemaskan, putriku yang baru berumur 4 bulan tersebut seakan tahu bahwa ayahnya akan merantau, sehingga terlihat sangat manja dan enggan dilepaskan dari gendonganku. Hari-hari ini juga aku manfaatkan untuk membuat foto selfie dengan anakkku, yah untuk jadi obat kangen nanti di Qatar.

Hari ketiga Idul Adha lalu aku membawa anak dan istriku berjalan-jalan di mall dan mencoba melupakan acara ke Qatar dan fokus pada keluarga. Namun ternyata sorenya aku dihubungi oleh wanita bernomor  telepon Qatar yang mengaku sebagai Employee relation officer dan memastikan bahwa visa kerja (working visa) sudah dikirim by email dan juga memberi informasi bahwa aku akan berangkat dua hari lagi!.

Dia kemudian meminta beberapa detail data yang harus aku isi yang menanyakan tentang nama bandara keberangkatan, kontak person ku dan aku diminta pula memilih maskapai penerbangan yang akan ku naiki nanti (untuk saran pilihlah Qatar Airways karena reputasinya sebagai maskapai penerbangan nomor satu di dunia tahun 2015, pilhan kedua bolehlah Emirates). Oke, setelah membuka email lewat HP aku langsung meminta segera pulang untuk mengisi dan mengeprint data-data yang dikirim oleh si relation officer.

Sampai dirumah, hal yang aku lakukan pertama adalah print working visa, print 3 lembar; satu untuk di selipkan di passport, satu diberikan  ke perusahaan nanti setibanya di Qatar dan satu untuk cadangan.

Untungnya persiapan seperti baju, sepatu dan sebagainya sudah lengkap tinggal dimasukkan ke Koper, sehingga yang kurang hanya perbekalan makanan-makanan yang pastinya aku butuhkan untuk awal-awal merantau.

Mungkin daftar makanan apa saja yang perlu dibawa, semoga bisa membantu teman-teman yang sedang persiapan / ingin ke Qatar:
  1. Rendang, percayalah, it’s work untuk kehidupan awal di Qatar nanti. Mintalah istri atau orang tua memasak rendang kering. Rendang kering lebih awet ketimbang basah.
  2. Kering tempe.
  3. Abon dan serundeng, ini sih selera.
  4.  Kacang teri, it’s work too.
  5. Kecap dan sambal botol merek produk Indonesia, disini sulit untuk mencari dua benda ini, kita harus ke Qatindo (toko Indonesia) namun untuk hidup di awal-awal pasti sulit karena belum memiliki mobil dan masih meraba-raba transportasi umum).
  6. Bon cabe..ini sih selera
  7. Mie Instant. Disini sebenarnya ada (banyak), namun harganya cukup mahal bagi kita yang belum berpendapatan selama di Qatar, untuk di satu bulan awal cukuplah membawa 10-15 bungkus.
  8. Bumbu inti, biasanya mereknya Kokita, beli saja semua jenis. Ini berguna banget buat kita yang bulok alias bujang lokal di Qatar nanti. Aku sendiri membawa bumbu inti, bumbu nasi goreng, bumbu-bumbu instant yang lain pun aku bawa.
  9. Sambal terasi kering.
  10. Jangan lupa untuk memerhatikan bungkus plastik dari makanan, terutama rendang. Kalau bisa gunakan alat press untuk merekatkan ujung plastik atau di steples sepanjang lipatan.

Perbekalan (takut kelaparan..)
Untuk lain-lain sih rata-rata tersedia di swalayan/minimarket yang hampir bisa ditemui di setiap jalan dan setiap sudut kota, jadi tidak perlu khawatir.

Persiapan selanjutnya adalah menelpon customer service provider telepon kita, jaga-jaga untuk awal-awal kita tiba di Qatar yang tentunya belum memiliki nomor lokal, tak ada salahnya untuk mengaktifkan international paket, minimal aktifkan untuk sms dan telepon untuk mengabari keluarga setibanya kita nanti, kalau menggunakan paket internet biayanya sangat mahal.

Salam

Dokumen persiapan ke Qatar dan Prosedur Legalisasi Dokumen

Banyak yang bertanya dokumen-dokumen apa saja yang diperlukan untuk keberangkatan ke Qatar ketika confirmation letter sudah kita terima, kita perlu mengurus ini sementara visa diurus perusahaan. Sebetulnya semua persyaratan dokumen tertera di email yang dikirim segera setelah confirmation letter kita terima. Kebetulan karena saya mendapat status sebagai “single” di tahun pertama, dokumen yang diperlukan tidak terlalu banyak.

Diantaranya:
  1. Medical Check-up
  2. PCC / Police Clearance Certificate attested by Foreign Affair of Indonesia & Qatar Embassy
  3. Ijazah (degree certificate) attested by Foreign Affair of Indonesia & Qatar Embassy
  4. Surat paklaring (Work Statement) dari semua perusahaan lama.
  5. Scan / Copy valid passport
  6. Pas photo terbaru ukuran passport 4x6 latar belakang biru dan putih (siapkan masing-masing 30 lembar untuk dibawa nanti ke Qatar)

Medical Check Up

Pertama adalah Medical Check-up, MCU yang diminta tidak terlalu ribet, tidak perlu ke GAMCA center di gedung Binawan Kalibata Raya. Ada memang yang seperti itu, tapi Alhamdulillah aku tidak. Perusahaan tempatku kerja hanya mensyaratkan “reputable hospital”, jadilah aku MCU di RS Premier Jatinegara.

MCU nya apa saja? Intinya MCU standard, yang utama ialah anda bebas TBC dan HIV. Biayanya? Total biaya dengan list yang tertera dibawah sebesar 950 ribu. Semua biaya MCU ini akan di reimburse ke perusahaan nanti setelah kita tiba di Qatar.

Berikut list medical check up:
  1. Cek darah lengkap
  2. Urine
  3. HIV
  4. Torax (x-ray)
  5. Pemeriksaan fisik standard

Police Clearence Certificate (PCC)

Kedua adalah PCC (Police Clearance Certificate) atau Surat Kelakuan Catatan Kepolisian (SKCK) dari Mabes Polri.

Alur pembuatan PCC adalah sebagai berikut:
  1. Surat pengantar RT/RW (1 hari, karena RW biasanya buka malam setelah Isya)
  2. Pagi-pagi bawa ke Kelurahan, bilang minta pengantar SKCK (gratis -  gak sampai ½ hari)
  3. Polres (bayar 10 ribu– ½ hari) – siapkan foto 4x6 latar belakang merah 6 lembar
  4. Mabes Polri (bayar 10 ribu – ½ hari. Tips: sebisa mungkin jangan ditinggal, ditunggu saja sampai betul-betul selesai ). Masuknya lewat pintu samping yang searah Al-Azhar. Jangan lupa siapkan foto 4x6 latar belakang merah 6 lembar.

Prosedur Legalisasi Dokumen

Setelah mendapat PCC (bahasa inggris), langkah berikutnya adalah membawa PCC bersama dengan Ijazah untuk di legalisasi sebelum ke kedutaan Qatar. Alur legalisasi adalah:

  1. Kementrian Hukum dan HAM Ditjen AHU (Administrasi Hukum Umum)
  2. Dirjen Protol Konsulat Kementerian Luar Negeri
  3. Kedutaan Qatar.

Kementerian Hukum dan HAM - Ditjen AHU

Kementrian Hukum dan HAM Ditjen AHU letaknya di Jl. H.R. Rasuna Said Kav 6-7 Kuningan
Jakarta Selatan 12490. Dari mall Ambassador tinggal belok kiri di ujung jalan, letaknya di pojok belokan itu. 

Sampai disana, langsung tanya gedung yang khusus untuk legalisir (bagian administrasi) dan naik ke lantai 3. Yang perlu disiapkan:
  1. Materai 6000 rupiah
  2. Fotokopi KTP
  3. Map warna apa saja.
  4. Dokumen
Aku pun mendatangi petugas yang terlihat nganggur (padahal konsumen calo banyak) sambil mendengarkan earphone. Setelah melihat sekilas dokumen, dia langsung bertanya.

“Dari universitas swasta ya?”
“Iya” jawabku
“Wah, gak bisa langsung mas, perlu di legalisir dulu ke DIKTI”
“HAH..DIKTI mbak?, dokumen saya harus masuk hari ini..mana sempet ke DIKTI..”
“Oke mas, ini bisa sih asal ada legalisir notaris”
“Oh yaudah gapapa mbak, mana notarisnya?”
“Ada mas, tuh disitu” aku pun ditunjukkan deretan orang berbaris yang ada di DALAM ruangan itu. Okelah mau bagaimana lagi, langsung saja ku datangi si “notaris” tersebut. 

Dan hebatnya, sebelum kaki ku menjangkau 10 meter dari mukanya, dia sudah mendatangiku seperti macan menjemput inang. 

Dengan rayuan ala calo dia menjanjikan bahwa dokumenku bisa selesai 3 hari hingga ke kementrian luar negeri terima beres dengan biaya 400 ribu. Serta merta aku menolak karena resminya paling cepat 3 hari selesai.

Akhirnya aku diberitahu oleh petugas di depan pintu masuk bahwa Notaris yang asli belum datang, kalau mau menunggu bisa sejam lagi. Ya tak apalah menunggu satu jam toh daripada bayar 400 ribu. Enggak sampai sejam akhirnya si notaris asli datang, penampilannya bersih dan parlente, cara bicaranya juga beda.

Akhirnya aku langsung mendatangi notaris tersebut dan membayar 30 ribu rupiah per lembar untuk biaya legalisir. Yang perlu dilegalisir notaris:
  1. Ijazah ( kalau dari universitas swasta pasti, kalau dari universitas negeri enggak perlu)
  2. KK (jika diminta)
  3. Akta lahir (jika diminta)
  4. Buku nikah (jika diminta)
PCC enggak perlu, jangan sampai tertipu. Setelah dilegalisir dokumen pun masuk ke petugas dengan mulus tanpa ambil nomor antrian. Setelah mengecek sebentar, kemudian kita akan diberikan formulir yang berisi nama, alamat, negara tujuan dan jenis dokumen yang ingin anda legalisir. Setelah kita isi selanjutnya akan diberikan tanda terima tiga rangkap, satu untuk pembayaran ke bank dan dua untuk anda tunjukkan ketika ambil dokumen.

Loket bank terdapat di depan loket legalisasi, biayanya adalah 25 ribu untuk biaya legalisasi plus 5 ribu biaya retribusi. Setelah itu aku kembali ke loket tadi untuk memberikan bukti pembayaran.

Tiga hari kemudian dokumen sudah bisa diambil. Waktu itu aku ingat memasukkan dokumen hari kamis siang dan diambil di hari senin siang. Enggak lama kan?

Dirjen Protokol dan Konsulat Kementerian Luar Negeri

Setelah ambil dokumen di Kemenkumham, dari situ aku lanjut ke Dirjen Protokol dan Konsulat Kementerian Luar Negeri yang beralamat di Jl Pejambon no 6. Jakarta.

Di Kemenlu terlihat sepi, sangat berbeda dengan Kemenkumham, dokumen ku kembali masuk dengan aman dan disuruh menunggu..tak sampai satu jam, dokumen ku  sudah bisa diambil…wow, legalisir berhasil. Yang pelu dibawa adalah:

  1. Materai 6000 rupiah
  2. Fotokopi KTP
  3. Map berwarna kuning
  4. Dokumen
Oya, kalau ada ijazah atau dokumen apapun yang dibutuhkan dan itu belum ada bahasa inggrisnya, harus di translate dulu menggunakan penerjemah tersumpah (sworn translatter), terutama jika anda langsung mendapat family status dari perusahaan di Qatar. KK, akte lahir anak dan buku nikah wajib di translate lebih dahulu sebelum di legalisir.

Next..Kedutaan Qatar…

Kedutaan Qatar alamatnya di JI DR Ide Anak Agung Gde Agung, Block E 2.3 No.4. Kawasan Mega Kuningan. Jakarta Selatan. Jam memasukkan dokumen adalah pada pukul 9.00-12.00 WIB dan mengambil dokumen pada pukul 13.00-15.00 WIB

Besok paginya aku submit dokumen, biayanya 70 ribu untuk dua dokumen yang di bayarkan di QNB bank, jangan khawatir..QNB bank ada di seberang kedutaan, tinggal nyebrang ke kiri sedikit.

Di kedutaan, dokumen di proses tiga hari kerja terhitung mulai dari kita submit dokumen, enggak lama kok dan kita bisa telepon dahulu untuk menanyakan status. Nomor telepon kedutaan Qatar di 021-57906560.

SCAN, SAVE, BACK-UP & COPY

Setelah dokumen semua beres, jangan pernah lupa untuk scan, save, back up dan copy segala sesuatunya. Setelah di scan, save di driver laptop, buat back-upnya di external hard-disk dan USB, lalu fotocopy dokumen-dokumen diatas.

Alangkah baiknya untuk save juga di google drive. Buat akun google drive dan install aplikasinya di smartphone. Kita bisa mengakses dokumen kita disana jikalau terjadi sesuatu seperti KTP hilang, Passport hilang, working visa dan sebagainya. It's work!

Salam

Offering Letter dan Confirmation Letter!!

Wah apa itu Offering letter dan confirmation letter? Specialkah? Oh tentu saja, karena ini yang aku tunggu-tunggu dari si recruiter tentang kelanjutan interview user waktu lalu. Jaraknya enggak lama, sekitar 10 harian..tapi jangan ditanya selama 10 hari itu aku gimana..he he..yang pasti lebih sering buka email daripada sebelumnya.

Karena saking berharap dan ternyata seminggu belum ada kabar, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengirim email lebih dulu ke si recruiter untuk menanyakan statusku, apakah aku sudah boleh resign dari pekerjaan lama atau belum. Ternyata si recruiter membalas kalau jangan resign sampai dia mengirim confirmation letter. 

Wah bagus juga..artinya kita tidak diberi harapan palsu. Btw, banyak dari kawan-kawan kita yang akhirnya resign dari pekerjaan di Indonesia dan akhirnya gagal ke Qatar, salah satunya adalah teman saya yang saya kenal di UAE exchange (walapun akhirnya ke Qatar juga, tapi pengalaman buruk itu jangan sampai terjadi pada kita).

Well, hari ke-10 offering letter aku terima lebih dahulu, isinya draft kontrak yang harus kita tanda tangan dan dikirim balik via email ke si recruiter. Isinya pasal-pasal yang tentu saja untuk kontrak kita nanti. Perhatikan sedetail mungkin pasal per pasal, kalau perlu dicatat apa saja yang kurang. Jangan langsung menandatangani draft tersebut, diskusi dengan keluarga adalah pilihan terbaik, enggak perlu terburu-buru. Banyak juga yang memanfaatkan waktu ini untuk tarik-ulur.

Setelah OL aku kirim balik (setelah 2 hari kemudian dengan perbaikan-perbaikan yang aku minta), tak lebih dua jam ada email masuk lagi, kali ini adalah confirmation letter. Confirmation letter sebetulnya bukan letter atau surat, tapi lebih kepada email konfirmasi..ciri-cirinya pada kata pertama tertulis “Congratulation..bla..bla” yang intinya kita sudah secara resmi di terima di perusahaan tersebut. Lega? Pastilah..lega banget.

Di confirmation letter itu tertulis bahwa kita dipersilahkan resign dari tempat kerja dan mengurus dokumen-dokumen untuk pengurusan visa. Well dari sini banyak dari kawan yang sudah ke middle-east mengatakan jangan resign sebelum visa diterima. Memang sih..tapi pada kasusku, si recruiter meminta surat resign (Resignation Accepted Letter) dari perusahaan kita sebelumnya untuk dia mengurus visa. Wah beresiko donk?

Memang iya, tapi hal ini sebetulnya bisa dimaklumi karena banyak dari orang Indonesia ke Qatar hanya ‘coba-coba’. Modusnya dengan mengajukan cuti sebulan di perusahaan lama lalu berangkat ke Qatar untuk bekerja disana, jika dirasa tidak cocok maka orang tersebut bisa kembali lagi ke Indonesia tanpa resign dari perusahaan yang lama. Dan ketika ku tanya di kemudian hari, ternyata modus tersebut benar. 

Modus ini sudah banyak diketahui oleh perusahaan di Qatar, jadi hati-hati jika ingin coba-coba. Cek secara menyeluruh tentang perusahaan yang akan merekrut kita di Qatar nanti, bisa masalah besar kalau ternyata kita tidak cocok, apalagi keluar dari Qatar harus ada exit permit yang harus ditanda-tangan oleh sponsor.

Dalam kasusku, aku coba berpikir positif bahwa kalau rejeki tak akan kemana. Kalau ternyata tidak jadi berangkat ke Qatar artinya pemasukan kepada keluargaku lenyap..masa iya sih Allah SWT tega, toh kita tidak pernah berlaku yang aneh-aneh. Insha Allah pasti di jamin. Berbekal keyakinan itu aku mengajukan resign ke perusahaan ku yang lama.


Salam